Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2020

Mengenal Pendekar Nasional | Cut Nyak Dhien

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para tokoh perintis kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari Tanah Air tercinta. Penting bagi generasi ketika ini untuk mengetahui dongeng atau kisah usaha para satria nasional.

Mengenal satria nasional sanggup dijadikan contoh bagi generasi bangsa semoga termotivasi untuk mengikuti nilai-nilai usaha para pahlawan. Dengan demikian dibutuhkan generasi bangsa ini nantinya turut membentuk ketahanan nasional. Seperti yang sering kita dengar dan kita baca, “Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Dan salah satu cara menghargai satria ialah dengan membaca kisah hidup dan perjuangannya.

Ada berbagai satria Indonesia. Salah satunya ialah Cut Nyak Dhien, satria nasional dari Aceh. Beliau ialah pejuang perempuan yang tangguh. Berikut ulasan perihal profil dan biografi Cut Nyak Dhien.
Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para tokoh perintis kemerdekaan dalam me Mengenal Pahlawan Nasional | Cut Nyak Dhien

Biodata Cut Nyak Dhien

Nama : Cut Nyak Dhien
Lahir : Aceh Besar, 1848
Wafat : Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908
Orang Tua : Teuku Nanta Seutia
Suami : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar
Anak : Cut Gambang

Biografi Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang, Kerajaan Aceh pada tahun 1848. Ia terlahir dari kalangan keluarga bangsawan. Ayahnya berjulukan Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang, yang juga keturunan dari Datuk Makhudum Sati. Ibu Cut Nyak Dhien ialah putri uleebalang Lampagar. Cut Nyak Dhien

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan pada bidang agama yang dididik oleh orang bau tanah ataupun guru agamanya serta pendidikan rumah tangga yaitu memasak, melayani suami, dan kehidupan sehari-hari.

Di masa kecil, Cut Nyak Dhien ialah gadis yang anggun sehingga banyak pria yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orang tuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka mempunyai satu anak laki-laki.

Perang Aceh

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pante Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan eksklusif sanggup menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler ketika itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira

Perang Aceh pertama terjadi pada tahun 1873-1874 dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000 serdadunya sanggup dipatahkan, di mana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873.

Perang Aceh kedua (1874-1880). Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai sentra pertahanan Belanda. Pada 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bab dari Kerajaan Belanda.

Perang Aceh ketiga (1881-1896). Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah dan berlangsung hingga tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah komando Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.

Pernikahan Cut Nyak Dhien dengan Teuku Umar

Darah pejuang menggelora di dalam diri Cut Nyak Dhien semenjak final hidup suami pertamanya, Teuku Cik Ibrahim Lamnga gugur diterjang peluru Belanda pada tahun 1878 di sebuah pertempuran di kawasan Gletarum. Teuku Ibrahim Lamnga merupakan suami pertama Cut Nyak Dhien yang telah menikahinya semenjak umur 12 tahun. Cut Nyak Dien kemudian bersumpah hanya akan mendapatkan pinangan laki laki yang bersedia membantu untuk menuntut balas final hidup Teuku Ibrahim Lamnga.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, sesudah sebelumnya Beliau dijanjikan untuk sanggup ikut turun di medan peperangan jikalau bersedia mendapatkan lamaran tersebut. Dari ijab kabul dengan Teuku Umar ini, Cut Nyak Dhien mempunyai seorang anak yang diberi nama Cut Gambang.

Teuku Umar ialah kemenakan ayahnya, seorang pejuang Aceh yang cukup disegani oleh Belanda. Sejak ketika itu, Cut Nyak Dhien selalu berjuang Bersama suaminya. Dalam usaha menghadapi Belanda, Teuku Umar bersiasat dengan berpura pura bekerja sama dengan Belanda untuk memperoleh pasokan senjata dan amunisi serta perlengkapan perang lainnya. Sementara itu di satu sisi, Cut Nyak Dhien tetap berjuang melawan Belanda di kampung halaman Teuku Umar.

Teuku Umar balasannya kembali bergabung dengan para pejuang Aceh lainnya dengan membawa persenjataan dan amunisi yang didapatkan dari Belanda, dan melancarkan pemberontakan melawan Belanda.

Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam sebuah pertempuran di Meulaboh, namun Cut Nyak Dhien tetap melanjutkan perjuangannya dengan bergerilya bersama pasukan kecilnya di hutan-hutan. Cut Nyak Dhien tidak pernah mau berdamai dengan Belanda yang disebutnya kapheer (kafir).

Cut Nyak Dhien Melanjutkan Perjuangan Melawan Belanda

Perjuangan yang berat dengan cara gerilya keluar masuk hutan menimbulkan kondisi pasukan dan kesehatan dirinya menurun. Cut Nyak Dhien terkena encok dan rabun pada matanya. Hal ini menciptakan seorang dari salah satu pasukannya merasa iba, dan kemudian melaporkan posisi keberadaan Cut Nyak Dhien kepada Belanda dengan persyaratan Cut Nyak Dhien harus diperlakukan dengan terhormat, bukan sebagai penjahat perang. Belanda pun menyetujuinya. Markas persembunyian Cut Nyak Dhien diserang dan Cut Nyak Dhien ditangkap.

Cut Nyak Dhien mendapatkan perlakuan yang baik serta perawatan sehingga sakitnya berangsur sembuh.  Keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memperlihatkan efek yang berpengaruh terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan beberapa pejuang Aceh yang belum tertangkap membuatnya kemudian diasingkan ke Sumedang.

Pada tanggal 6 November 1908 Cut Nyak Dhien meninggal dunia alasannya ialah usianya yang sudah lanjut di tempat pengasingannya di Sumedang, Jawa Barat. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Cut Nyak Dhien menurut SK Presiden RI No.106/1964

Mengenal Sultan Syarif Kasim Ii Dari Siak Riau

Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia. Selain diliputi suasana peperangan yang mencekam, ternyata ada cerita cinta yang menakjubkan. Cerita ini tiba dari Kesultanan Siak Sri Indrapura Riau yang kala itu populer sangat loyal terhadap Indonesia dan mempunyai sosok pemimpin yang dicintai rakyat.
Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia Mengenal Sultan Syarif Kasim II dari Siak Riau
Kesultanan Siak ketika itu dipimpin oleh Sultan Syarif Kasim II, pemimpin yang disebut-sebut bisa mencuri hati perempuan sekelas Ratu Wilhemina, sosok superior baik di negerinya Belanda maupun di Hindia Belanda atau Indonesia ketika dijajah Belanda.

Konon, Ratu Wilhelmina ini jatuh cinta kepada Sultan Syarif Kasim II alasannya yaitu sosoknya yang gagah, rapih, cerdas, dan cinta rakyat. Sifat itulah yang kemudian merebut perhatian sang ratu ketika berkunjung ke Siak. Selain mempunyai sifat yang menawan itu, Sultan Syarif Kasim II juga terlihat tampan dan necis ketika muda.
Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi bangsa Indonesia Mengenal Sultan Syarif Kasim II dari Siak Riau
Bukti kecintaan Wilhemina pada Sultan Syarif Kasim II yaitu banyaknya barang Wilhelmina sebagai kenang-kenangan termasuk patung berbentuk dirinya yang ketika itu masih muda. Sebagai kenang-kenangan Ratu Wilhemina kemudian meminta patung Sultan Syarif Kasim II untuk dibawa pulang ke Belanda. Namun akhirnya, cerita cinta Ratu Wilhemina pada Sultan Syarif Kasim II tak berakhir senang alasannya yaitu cintanya dipisahkan oleh perbedaan agama.

Sebenarnya ibarat apa sih sosok sultan dari Riau yang bisa merebut hati Ratu Wilhelmina? Berikut ini ulasannya.

Sultan Syarif Kasim II


Sultan Syarif Kasim II dilahirkan di Siak pada tanggal 1 Desember 1893. Beliau merupakan Sultan yang terakhir dari Kesultanan Siak Sri Indrapura, sebuah Kesultanan Melayu Islam, dan sekarang Sultan Syarif Kasim II Namanya diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional di Pekanbaru, Propinsi Riau.

Berawal pada tahun 1915, Sultan Syarif Kasim II diangkat sebagai Sultan Siak yang berkedudukan di Siak Sri Indrapura. Sekarang Siak merupakan sebuah Kabupaten di Provinsi Riau dan masuk kedalam kawasan segitiga pertumbuhan (growth triangle) Indonesia – Malaysia- Singapura. Sebagai aristokrat yang kaya raya , Sultan Syarif Kasim II pernah mengikuti pendidikan aturan dan tata negara di Jakarta.

Setelah Sultan Syarif Kasim II diangkat sebagai Sultan Siak, Beliau menolak untuk mengakui perjanjian yang pernah dibentuk oleh sultan-sultan terdahulu dengan Pemerintah Belanda yang menyatakan  bahwa Kerajaan Siak yaitu milik Pemerintah Belanda yang dipinjamkan kepada keluarga Sultan.

Sultan Syarif Kasim II yang berpikiran maju berusaha untuk meningkatkan kecerdasan masyarakatnya. Dia pun kemudian mendirikan sekołah-sekolah berbahasa Belanda dan Melayu. Di samping itu, murid-muridnya yang cerdas dan berbakat diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota-kota besar, ibarat Jakarta dan Medan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan bahwa Kerajaan Siak yaitu merupakan bab dari negara Republik Indonesia. Beliau ikut memperlihatkan kontribusi moril dengan mengajak para sultan yang ada di Sumatera untuk bergabung dengan Pemerintah RI. Beliau juga memperlihatkan kontribusi materil dengan menyumbangkan hartanya sebanyak 13 juta gulden untuk membantu jalannya pemerintahan RI.

Ketika  Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II yang dilanjutkan dengan membentuk negara-negara federal (negara boneka), Sultan Syarif Kasim II yang pada ketika itu sedang berada di Aceh, melalui pidatonya di radio, memerintahkan kepada segenap penduduk Siak untuk tetap setia kepada Pemerintah RI serta menolak pembentukan Dewan Siak oleh Belanda.

Sultan Syarif Kasim II bahkan terus aktif membantu pejuang RI untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara menyediakan materi makanan untuk tentara dan pejuang-pejuang RI yang bertempur melawan Belanda maupun yang bertugas melaksanakan penumpasan terhadap gerombolan pemberontak. Demikian juga untuk Pemerintah RI yang ketika itu dipindahkan di Yogyakarta, Syarif kasim dengan rela menyumbangkan sebagian harta kekayaannya.

Sultan Syarif Kasim II meninggal dunia di Rubai, Pekanbaru, 23 April 1968 dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Mesjid Siak. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Syarif Kasim II menurut Surat Keputusan Presiden RI. No. 109/TK/ 1998, Pemerintah menganugerahkan gelar jagoan nasional kepadanya.

Sabtu, 21 Mei 2016

Kabinet Ali Sastroamijoyo I Dan Ii Didalam Sejarah Indonesia

Di dalam pembahasan ini akan di uraikan mengenai bahan pelajaran sejarah Indonesia yakni Kabinet Ali Sastroamijoyo I (Pertama) Dan II (Kedua), yang mana akan juga di jelaskan mengenai apa saja agenda kerja Kabinet Ali Sastroamijoyo serta apa yang mengakibatkan kabinet Ali Sastroamijoyo 1 dan ke 2 tersebut runtuh / jatuh.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui Kabinet Ali Sastroamijoyo I (Pertama) Dan II (Kedua) didalam bahan pelajaran sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta sanggup menjadi web portal rujukan kiprah maupun makalah bagi para pelajar di seluruh tanah air Indonesia.
Di dalam pembahasan ini akan di uraikan mengenai bahan pelajaran sejarah Indonesia yakni  Kabinet Ali Sastroamijoyo I Dan II Didalam Sejarah Indonesia

Kabinet Ali Sastroamijoyo I

Pada tanggal 31 Juli 1953, di bentuk dan didirikanlah kabinet Ali Sastroamijoyo I yang perdana menterinya di duduki oleh Ali Sastroamijoyo dari dari Partai Nasional Indonesia (PNI) serta wakil perdana menterinya yaitu Wongsonegoro dari Partai Indonesia Raya (PIR). Adapun kabinet Ali Sastroamijoyo I mempunyai agenda 4 (empat) pasal, yakni sebagai berikut ini :

#4 Program Kabinet Ali Sastroamijoyo I

1. Program pertama
Program yang ada didalam negeri menyerupai agenda meningkatkan kemakmuran serta keamanan, dan juga segera dilakukannya penyelenggaraan sistem pemilihan umum (Pemilu).

2. Program kedua
Program ini meliputi perihal akan pembebasan Irian Barat dengan segera.

3. Program ketiga
Program yang cakupannya berada diluar negeri menyerupai agenda penyelenggaraan atau pelaksanaan politik bebas aktif dan juga agenda peninjauan kembali ke persetujuan konferensi meja bulat (KMB).

4. Program keempat
Program ini meliputi perihal akan penyelesaian pertikaian politik dan sebagainya.

Prestasi yang diraih Kabinet Ali Sastroamijoyo I

Adapun prestasi yang telah diraih dan sangat menonjol yang nampak pada kabinet Ali Sastroamijoyo I ini yaitu berhasilnya diselenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang terletak di kota Bandung, provinsi Jawa Barat sempurna pada tanggal 18 hingga 24 April tahun 1952.

Runtuhnya kabinet Ali Sastroamijoyo I

Dan lalu sempurna pada tanggal 24 juli tahun 1955, Ali Sastroamijoyo selanjutnya sukses menyerahkan / memperlihatkan mandatnya kepada Presiden dengan penyebab utamanya yakni permasalahan mengenai Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) yang sebagai dari kelanjutan bencana 17 Oktober tahun 1952.

Peristiwa apa yang terjadi pada 17 Oktober 1952 ?
Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah bencana di mana Kepala Staff Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (KSAD) yang dijabat oleh A.H. Nasution dan tujuh panglima kawasan meminta biar Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dibubarkan. Kemal Idris yaitu salah satu dari ketujuh para panglima yang pernah mengarahkan moncong meriam ke arah Istana. Dalihnya yaitu untuk melindungi Presiden Soekarno dari para demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Kemudian sesudah pinjaman mandat kepada presiden, Kepala Staff Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (KSAD) Mayor Jenderal Bambang Sugeng melaksanakan pengajuan permohonan untuk berhenti dan lalu di setujui oleh kabinet.

Adapun sebagai pengganti kiprah dari Mayor Jenderal Bambang Sugeng, menteri pertahanan (Menhan) lalu menunjuk Panglima Tentara dan Teritorium II / Sriwijaya yakni Kolonel Bambang Utoyo. Kemudian proses diangkatnya pimpinan yang gres tersebut mendapat agresi penolakan dari para panglima Angkatan Darat (AD), hal ini dikarenakan proses pengangkatan pimpinan gres tersebut dianggap tidak menghiraukan akan norma-norma yang berlaku pada lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD).

Dan sesudah itu, selain permasalahan internal mengenai Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), hal lain yang menjadi faktor pemicu keretakan jatuhnya Kabinet Ali Sastroamijoyo I yakni :

1. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk.
2. Terdapat korupsi.
3. Terjadi inflasi (hal ini yang menjadikan tingkat keyakinan rakyat terus menerus merosot).
4. Nahdatul Ulama (NU) memutuskan segera untuk menarik kembali para menteri-menterinya yang sesudah itu diikuti oleh partai lainnya.


Kabinet Ali Sastroamijoyo II

Pada kabinet Ali Sastroamijoyo II ini, Ali Sastroamijoyo yaitu pemimpin / ketua kabinet yang berperan sebagai perdana menteri. Kabinet Ali Sastroamijoyo II ini yaitu adonan (koalisi) dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Nahdatul Ulama (NU). Kabinet Ali Sastroamijoyo II ini juga merupakan sebuah kabinet yang pertama sesudah dilaksanakan acara pemilihan umum (Pemilu) pada tahun 1955.

#4 Program Kabinet Ali Sastroamijoyo II

Adapun agenda utama yang pokok dari kabinet Ali Sastroamijoyo II, yakni sanggup di jelaskan sebagai berikut ini :

1. Program pertama, yakni penghapusan Konferensi Meja Budar (KMB).
2. Program kedua, yakni kembali bejuang biar sanggup mengembalikan Irian Barat masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Program ketiga, yakni memulihkan kembali keamanan, ketertiban, keuangan, pembangunan ekonomi, pendidikan, perhubungan, industri, dan sektor pertanian.
4. Program keempat, yakni melaksanakan dan menjalankan keputusan dari Konferensi Asia Afrika (KAA).

Runtuhnya Kabinet Ali Sastroamijoyo II

Dan lalu sempurna pada tanggal 14 Maret tahun 1957, Ali Sastroamijoyo kembali menyerahkan mandatnya kepada presiden yang dikarenakan pada badan kabinet Ali Sastroamijoyo II terdapat dan terjadinya perpecahan antara kubu Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan kubu Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Kubu dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menginginkan biar Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya dan ditujukan kepada presiden sesuai dengan tuntutan dari daerah, akan tetapi Ali Sastroamijoyo mempunyai pendapat lain yakni beropini bahwa kabinet tidak diwajibkan mengembalikan mandatnya hanya dikarenakan tuntutan dari daerah.

Dan sempurna pada bulan januari tahun 1957, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) lalu menarik seluruh menteri-menterinya dari kabinet Ali Sastroamijoyo II dan alasannya hal-hal tersebutlah yang menciptakan kabinet Ali Sastroamijoyo II menjadi sangat lemah. Sehingga hal tersebut yang menjadi faktor pemicu kabinet Ali Sastroamijoyo II runtuh. Demikian pembahasan mengenai Kabinet Ali Sastroamijoyo I (Pertama) Dan II (Kedua).

Selasa, 03 Mei 2016

Sejarah Perkembangan Agama Hindu

Sejarah perkembangan agama Hindu adalah pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Adapun sub pembahasan perihal sejarah lahirnya agama Hindu dan perkembangan agama hindu yang akan di bahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah agama Hindu.
2. #3 Dewa Trimurti agama Hindu.
3. Sumber pedoman agama Hindu.
4. #4 Kelompok golongan masyarakat umat Hindu.
5. Tempat suci umat Hindu.
6. Hari raya umat Hindu.
Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah agama hindu, nama-nama ilahi trimurti agama hindu, sumber pedoman agama hindu, kelompok-kelompok golongan masyarakat umat hindu, tempat suci umat hindu serta hari raya umat hindu dan menjadi portal acuan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini Sejarah Perkembangan Agama Hindu

Sejarah Agama Hindu

Agama hindu ialah agama yang lahir di india. Nama hindu dikaitkan dengan nama negeri India (Indus). Perkembangan agama Hindu di India sangat berkaitan dengan sistem iktikad bangsa Arya yang masuk ke India pada 1500 SM. Mereka masuk India melalui Celah Khyber dan menggantikan posisi bangsa Dravida dan Munda yang pernah menguasai India.

Sebelum India diduduki bangsa Arya, India di huni oleh bangsa Dravida. Bangsa Arya berhasil mendesak bangsa Dravida, serta membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat di India. Bangsa Arya memasuki lembah Sungai Indus secara berelombang, bergerak dan menyebar ke arah tenggara dan memasuki tempat lembah Sungai Gangga dan Yamuna.
Di Punjab (daerah lembah Sungai Indus), bangsa Arya sanggup mempertahankan kemurnian keturunannya. Sedangkan yang berada di lembah Sungai Gangga dan Yamuna berintegrasi (menyatu) dengan bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli. Dari integrasi tersebut terjadilah percampuran di antara bangsa Arya dan Dravida, baik itu menyangkut tradisi maupun sistem kepercayaannya.

Akhirnya lahirlah agama dan kebudayaan Hindu. Jadi, sanggup di jelaskan bahwa agama Hindu merupakan sinkretisme (percampuran) antara iktikad bangsa Arya dengan iktikad bangsa Dravida.

#3 Dewa Trimurti Agama Hindu

Ada 3 ilahi utama yang merajai dewa-dewa tersebut yang sering di sebut dengan Trimurti. Ketiga ilahi tersebut yakni sebagai berikut :

1. Brahma (dewa pencipta)
Dewa ini kiprahnya ialah membuat dan mengatur atau menetapkan segala yang ada di alam semesta.

2. Wisnu (dewa pemelihara)
Dewa ini kiprahnya ialah memelihara alam semesta yang telah di ciptakan oleh ilahi Brahma.

3. Syiwa (dewa penghancur, pembinasa)
Dewa ini kiprahnya ialah menetapkan kehancuran dan kebinasaan sesuatu, baik itu manusia, binatang, maupun alam semesta. Syiwa mempunyai seorang putra yang juga menjadi dewa, yaitu Ganesha. Ganesha adalah ilahi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Wujudnya ialah insan bertangan 4 dan berkepala gajah.

Sumber Ajaran Agama Hindu

Sumber pedoman agama Hindu terdapat pada kitab suci Weda, Brahmana (tafsir kitab Weda), dan Upanisad. Kitab Weda ini dituliskan dalam 4 bab yakni sebagai berikut :

a. Reg-Weda
Reg-Weda berisi puji-pujian terhadap dewa.
b. Sama-Weda
Sama-Weda berisi nyanyian-nyanyian suci yang syairnya di ambil dari Reg-Weda.
c. Yajur-Weda
Yajur-Weda berisi klarifikasi perihal syair-syair yang diambil dari Reg-Weda.
d. Atharwa-Weda
Atharwa-Weda berisi doa-doa untuk pengobatan (mantra-mantra).

#4 Kelompok Golongan Masyarakat Umat Hindu

Dalam tradisi masyarakat Hindu ada 4 kelompok golongan masyarakat yakni sebagai berikut :

1. Brahmana (para pendeta atau pemuka agama)
2. Kesatria (para bangsawan)
3. Waisya (para petani dan pedagang)
4. Sudra (para nelayan, buruh atau rakyat kecil)

Dengan demikian, hinduisme adalah perpaduan antara keyakinan keagamaan yang suci dan kelas sosial yang mempunyai aturan moral. Namun pada hakikatnya, pembagian tersebut intinya hanyalah sekadar untuk menjaga kemurnian ras bangsa Arya biar tidak tercampur dengan ras bangsa Dravida yang sering dianggap bangsa yang rendah.

Bahkan ada satu golongan yang di keluarkan dari golongan yang umum, yaitu golongan Paria. Golongan paria adalah golongan rakyat rendah, yang mencakup penjahat, gelandangan dan pengemis. Golongan Paria dikeluarkan dari golongan umum alasannya ialah dianggap mempunyai kasta yang sangat rendah dan terlalu banyak memilki kesalahan, sehingga tidak pantas di masukkan dalam golongan masyarakat umum.

Tempat Suci Dan Hari Raya Umat Hindu

Berikut ini ialah tempat suci umat Hindu serta hari raya umat hindu yakni antara lain sebagai berikut :

1. Kota Benares
Kota Benares ialah sebuah kota yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya ilahi Syiwa.
2. Sungai Gangga
Sungai Gangga ialah sebuah sungai yang dianggap keramat dan suci, alasannya ialah air sungai Gangga dianggap sanggup menyucikan debu mayat yang dibuang ke dalamnya.
3. Hari raya umat Hindu
Hari raya umat Hindu ialah Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Nyepi dan Siwaratri.

Demikian pembahasan mengenai sejarah dan perkembangan agama Hindu.

Senin, 02 Mei 2016

Sejarah Perkembangan Agama Buddha

Sejarah perkembangan agama Buddha adalah pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Adapun sub pembahasan tentang sejarah lahirnya agama Buddha dan perkembangan agama buddha yang akan di bahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah lahirnya agama Buddha.
2. Kitab Suci Agama Buddha.
3. #2 aliran agama Buddha.
4. Tempat Suci Agama Buddha.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah lahirnya agama Buddha, kitab-kitab suci agama Buddha, aliran-aliran agama Buddha, serta tempat-tempat suci agama Buddha dan menjadi portal tumpuan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini Sejarah Perkembangan Agama Buddha

Sejarah Lahirnya Agama Buddha

Agama Buddha dibawa oleh seseorang yang berjulukan Sidharta Gautama. Dia ialah putra dari Raja Sudodana dari Kerajaan Kosala di Kapilawastu. Mereka berasal dari Sakya, termasuk kasta Kesatria. Ibunya berjulukan Maya. Sidharta pernah diramal oleh seorang Brahmana, bahwa kelak akan menjadi pendeta besar dan termasyhur.

Agama Buddha adalah agama yang lahir sebagai akhir atau reaksi dari munculnya agama Hindu. Ada yang menyampaikan bahwa agama Buddha lahir lantaran dalam agama Hindu terdapat upacara pengorbanan sakral terhadap mahkluk hidup.
Baca juga Sejarah Perkembangan Agama Hindu
Ada juga yang menyampaikan bahwa lahirnya agama Buddha disebabkan adanya protes atas golongan Brahmana yang dianggap selalu di istimewakan. Golongan Brahmana dianggap terlalu di istimewakan dan berlebihan dalam beribadah sehingga sering menguras harta rakyat untuk menciptakan aneka macam macam sesaji.

Oleh lantaran itu, dalam pedoman agama Buddha tidak diakui pembagian kasta (golongan) dalam masyarakat. Menurut pedoman Buddha, setiap orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan asalkan ia bisa mengendalikan dirinya sehingga bebas dari samsara/sengsara (penderitaan di dunia).

Penganut agama Buddha percaya bahwa tujuan insan hidup di dunia ialah menghentikan reinkarnasi, lantaran reinkarnasi ialah penderitaan yang bersifat sementara. Sedangkan penderitaan bahu-membahu ialah apabila seseorang terus-menerus mengalami reinkarnasi atau selalu di lahirkan kembali ke dunia, yang berarti terus-menerus mengalami penderitaan.

Reinkarnasi adalah proses lahirnya kembali insan dari kehidupan sebelumnya insan dari kehidupan sebelumnya dengan kehidupan yang baru. Inilah yang di sebut dengan kesengsaraan atau penderitaan. Penderitaan sanggup dilarang dengan cara menekan trisna (nafsu). Nafsu sanggup ditekan melalui 8 jalan (astavidha), adapun #8 jalan atau disebut juga astavidha yakni ibarat berikut :

1. Pandangan atau pedoman benar.
2. Niat atau perilaku benar.
3. Berbicara yang benar.
4. Berbuat atau bertingkah laris yang benar.
5. Penghidupan yang benar.
6. Berusaha yang benar.
7. Memerhatikan hal-hal yang benar.
8. Bersemedi yang benar.

Dengan melakukan hal-hal tersebut, seseorang sanggup terbebas dari segala macam penderitaan dan masuk nirwana. Nirwana adalah daerah dimana tidak ada lagi penderitaan. Seseorang yang sanggup masuk nirwana, dianggap terbebas dari ketidaktahuan, terbebas dari penderitaan dan terbebas dari kelahiran kembali (reinkarnasi).

Pemeluk agama Buddha wajib melakukan 3 ikrar (Tri Ratna), adapun #3 Ikrar atau tri ratna pada pemeluk agama Buddha yaitu sebagai berikut :

1. Berlindung kepada Buddha.
2. Berlindung kepada Dharma (ajaran) agama Buddha.
3. Berindung kepada Sanggha (perkumpulan) masyarakat pemeluk agama Buddha.

Kitab Suci Agama Buddha

Agama Buddha memiliki kitab suci yang ditulis dengan bahasa Pali, yaitu kitab Tripitaka (Tiga Keranjang). Kitab ini terdiri atas beberapa bagian, yakni sebagai berikut :

a. Vinayapitaka
Vinayapitaka berisi wacana bermacam-macam aturan hidup dan aturan penentu cara hidup pemeluknya.
b. Sutrantapitaka
Sutrantapitaka berisi wacana pokok-pokok wejangan Sang Buddha.
c. Abdhidharmapitaka
Abdhidharmapitaka berisi wacana klarifikasi dan kupasan mengenai sosial beragama atau falsafah agama.

#2 aliran agama Buddha

Dalam perkembangannya, agama Buddha pecah menjadi 2 aliran, yakni sebagai berikut :
1. Buddha Mahayana (kendaraan besar)
Buddha Mahayana (kendaraan besar) ialah jikalau seorang telah sanggup mencapai nirwana, hendaklah memikirkan orang lain yang masih dalam kegelapan (bersifat terbuka). Aliran Mahayana dipandang lebih liberal, artinya pedoman Buddha cocok untuk semua orang.
2. Buddha Theravadha atau Buddha Hinayana (kendaraan kecil)
Buddha Theravadha atau Buddha Hinayana (kendaraan kecil) ialah sesuatu yang penting bagaimana setiap individu sanggup mencapai surga bagi diri sendiri (bersifat tertutup).

Tempat Suci Agama Buddha

Dibawah ini ialah tempat-tempat suci agama Buddha yakni sebagai berikut :
a. Taman Lumbini di Kapilawastu
Taman Lumbini di Kapilawastu ialah daerah kelahiran Sang Buddha.
b. Bodh-Gaya
Bodh-Gaya ialah daerah Sang-Buddha menerima penerangan, kesadaran tinggi atau bodhi.
c. Samath
Samath ialah daerah Sang-Buddha pertama kali memperlihatkan pengajaran kepada pengikut-pengikutnya.
d. Kucinagara
Kucinagara ialah daerah Sang-Buddha wafat pada tahun 482 SM.

Demikian pembahasan mengenai sejarah perkembangan agama buddha.

Minggu, 01 Mei 2016

Sejarah Masuknya Hindu-Buddha Ke Indonesia

Sejarah perkembangan masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia adalah pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Adapun sub pembahasan tentang masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia dan perkembangan agama hindu-buddha di indonesia yang akan dibahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia.
2. #5 Hipotesis proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia serta 5 hipotesis proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia  dan menjadi portal rujukan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
Sejarah perkembangan masuknya agama Hindu Sejarah Masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia

Sejarah Masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia

Sejak zaman prasejarah orang Indonesia dikenal sebagai pelaut ulung yang gemar mengarungi samudra. Bahkan berdasarkan beberapa hebat sejarah, hubungan dagang antara India dengan Indonesia telah terjalin. Hubungan ini kemudian berkembang tidak hanya pada perdagangan saja, tetapi juga terjadi interaksi antar budaya dan kepercayaan.
Baca ini Sejarah Perkembangan Agama Hindu
Hal ini di sebabkan perdagangan itu tidak hanya mempunyai maksud untuk berdagang, tetapi juga untuk membuatkan agama Hindu. Dari hubungan ini kemudian terjadi beberapa perubahan dalam masyarakat Indonesia, contohnya sebagai berikut :

1. Semula hanya mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme, kemudian mengenal dan menganut agama Hindu-Buddha.
2. Semula belum mengenal aksara/tulisan, menjadi mengenal aksara/tulisan dan dari goresan pena itu Indonesia mulai memasuki zaman Sejarah.

Akulturasi budaya adalah pencampuran antara dua atau lebih kebudayaan yang saling bertemu dan saling memengaruhi. Bukti adanya hubungan dagang tersebut sanggup diketahui dari Kitab Jataka dan Kitab Ramayana.
Baca juga Sejarah Perkembangan Agama Buddha
Kitab Jataka menyebut nama Swarnabhumi, sebuah negeri emas yang sanggup dicapai melalui perjalanan jauh dan penuh bahaya. Swarnabhumi yang dimaksud yaitu Pulau Sumatra. Sedangkan kitab Ramayana menyebut Jawadwipa dan Swarnadwipa. Menurut hebat ilmu bahasa kuno, nama Jawadwipa berarti Pulau Padi yang subur. Ini diduga yaitu sebutan untuk Pulau Jawa. Sedangkan Swarnadwipa berarti Pulau Emas dan Perak, diduga yaitu sebutan untuk Pulau Sumatra.

Dalam buku sastra kuno India, Mahaniddesa disebutkan bahwa India telah mengenal beberapa tempat di Indonesia pada kala ke 3 masehi. Namun, masuknya imbas dari India di perkirakan mulai semenjak kala ke 2 masehi. Hal ini berdasarkan bukti-bukti yang ada dimana pengaruh Hindu-Buddha yang masuk ke Indonesia berasal dari India Selatan.

Bukti-bukti tersebut yakni sebagai berikut :
1. Dipakainya nama berakhiran “warman” yang merupakan tradisi bagi orang India Selatan.
2. Dipakainya huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang berasal dari Kerajaan Palla di India Selatan pada prasasti-prasasti di Indonesia.

Mengenai bagaimana proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia, belum ada bukti yang kuat. Namun, ada beberapa hipotesis wacana masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha ke Indonesia. Hipotesis-hipotesis itu yakni akan dijelaskan sebagai berikut :

#5 Hipotesis proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia

1. Hipotesis Waisya
Hipotesis ini dikemukakan oleh N.J.Krom yang menyebutkan bahwa proses masuknya kebudayaan Hindu melalui hubungan dagang antara India dan Indonesia. Kaum pedagang (Waisya) India yang berdagang di Indonesia mengikuti angin musim.

Apabila angin demam isu tidak memungkinkan mereka untuk kembali, dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia. Biasanya selama 6 bulan. Selama para pedagang India tersebut menetap di Indonesia, mereka manfaatkan untuk membuatkan agama Hindu-Buddha.

2. Hipotesis Kesatria
Hipotesis kesatria mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia yaitu kaum Kesatria atau bangsawan. Menurut hipotesis ini, pada masa lampau di India terjadi peperangan antar kerajaan. Para prajurit yang kalah kemudian mengadakan migrasi ke kawasan lain.

Tampaknya diantara mereka ada yang hingga ke Indonesia dan mendirikan koloni-koloni melalui penaklukan. Mereka membuatkan budaya dan agama Hindu di Indonesia. Salah seorang pendukung hipotesis ini yaitu sejarawan C.C.Berg.

3. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini diungkap oleh J.C.Van Leur. Dia menyampaikan bahwa kebudayaan Hindu-Buddha India yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana. Pendapatnya itu didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

Terutama pada prasasti-prasasti yang memakai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Karena hanya golongan Brahmana yang menguasai bahasa dan huruf itu, maka sangat terang disini adanya kiprah Brahmana.

4. Teori Sudra
Teori ini disampaikan oleh Von Van Faber yang menyebutkan bahwa peperangan yang terjadi di India meyebabkan golongan Sudra menjadi buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum Waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan Sudra yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

5. Teori Arus Balik
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K.Bosch, yaitu banyak orang Indonesia yang sengaja tiba ke India untuk berziarah dan berguru agama Hindu-Buddha. Setelah kembali ke Indonesia, mereka membuatkan agama tersebut. Teori tersebut juga di dukung dengan pendapat Van Leur, dimana menurutnya orang Indonesia juga mempunyai kiprah dalam proses masuknya kebudayaan India.

Para pedagang dari Indonesia, tiba sendiri ke India lantaran ingin tau dengan kebudayaan tersebut. Mereka menetap di India selama beberapa waktu kemudian pulang kembali dengan membawa kebudayaan India dan menyebarkannya.

Demikian pembahasan mengenai sejarah masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia.

Jumat, 29 April 2016

Sejarah Kerajaan Kutai (Kerajaan Pertama Dan Tertua Di Indonesia)

Kerajaan Kutai adalah pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Dan pertama-tama yang harus anda ketahui bahwa kerajaan kutai yakni kerajaan Hindu yang tertua di negara Republik Indonesia ini. Adapun sub pembahasan wacana sejarah kerajaan kutai yang dibahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah Kerajaan Kutai.
2. Raja-raja Kerajaan Kutai.
3. #14 Benda Bersejarah Peninggalan Kerajaan Kutai.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah kerajaan kutai, nama-nama raja di kerajaan kutai serta benda bersejarah peninggalan kerajaan kutai  dan menjadi portal rujukan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini Sejarah Kerajaan Kutai (Kerajaan Pertama Dan Tertua Di Indonesia)

Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan kutai bangkit sekitar tahun 400-500 M. Kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Informasi mengenai kerajaan ini diperoleh dari 7 prasasti yang disebut Yupa.

Berbentuk Menhir atau Tiang Batu yang ditemukan di Muarakaman tepi Sungai Mahakam. Tujuh prasasti atau yang disebut dengan Prasasti Yupa ini memakai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang diperkirakan ditulis pada 400 M.

Yupa adalah tugu watu untuk upacara persembahan penganut animisme. Dari ke 7 prasasti (prasastu Yupa) tersebut sanggup diketahui wacana silsilah, daerah sedekah dan macam-macam sedekah yang lain, ibarat wijen, malai bunga, lampu dan lain-lain.

Raja-raja Kerajaan Kutai

Raja pertama yang memerintah Kutai berjulukan Kudungga. Raja Kudungga mempunyai putra berjulukan Aswawarman. Aswawarman mempunyai putra yang berjulukan Mulawarman. Dilihat dari nama, Kudungga bukanlah nama Hindu, tetapi nama Indonesia asli. 

Nama Aswawarman dan Mulawarman yakni nama-nama berbau Hindu. Warman berarti pakaian perang. Penambahan nama itu diberikan dalam upacara penobatan raja secara agama Hindu. Keluarga Kudungga melaksanakan upacara Vratyastoma, yaitu upacara Hindu untuk penyucian diri sebagai syarat masuk pada kasta Kesatria. 

Berdasarkan nama dan gelar yang disandangnya, kerajaan Kutai yang bercorak Hindu berawal dari pemerintahan Aswawarman. Sedangkan agama yang dianut oleh Mulawarman yakni Hindu aliran Syiwa.

Hal tersebut sanggup diketahui dari salah satu Prasasti Yupa yang menyebut daerah dalam tanah yang sangat suci yang diberi nama Waprakeswara. Waprakeswara adalah suatu daerah suci untuk memuja Dewa Syiwa.

#14 Peninggalan Kerajaan Kutai

Berikut ini yakni barang-barang peninggalan kerajaan kutai yang masih ada sampai dikala ini. Adapun #14 peninggalan benda bersejarah kerajaan Kutai yakni sebagai berikut :

1. Prasasti Yupa.
2. Ketopong Sultan.
3. Kalung Ciwa.
4. Kalung Uncal.
5. Kura-kura Emas.
6. Pedang Sultan Kutai.
7. Tali Juwita.
8. Keris Bukit Kang.
9. Kelambu Kuning.
10. Singgasana Sultan.
11. Meriam.
12. Tombak Kerajaan Majapahit.
13. Keramik Kuno Tiongkok.
14. Gamelan Gajah Prawoto.

14 benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Kutai itulah sampai dikala ini sanggup di temui pada museum Tenggarong (disebut Tangga Arung).

Demikian pembahasan mengenai sejarah Kerajaan Kutai, kerajaan pertama dan kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Kamis, 28 April 2016

Sejarah Kerajaan Tarumanegara (Kerajaan Tertua Di Indonesia)

Kerajaan Tarumanegara ialah pokok pembahasan yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Dan yang harus anda ketahui wacana kerajaan ini bahwa kerajaan Tarumanegara ialah kerajaan tertua di negara Republik Indonesia ini.

Ada salah satu universitas di Indonesia yang memakai nama kerajaan ini sebagai nama universitas tersebut yakni Universitas Tarumanagara (Tarumanagara University). Adapun sub pembahasan wacana sejarah kerajaan Tarumanegara yang dibahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah Kerajaan Tarumanegara.
2. Benda Sejarah Peninggalan Kerajaan Tarumanegara
3. #7 Prasasti Kerajaan Tarumanegara.
4. Agama Yang Dianut Pada Masa Kerajaan Tarumanegara.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah kerajaan Tarumanegara, benda sejarah peninggalan kerajaan Tarumanegara, tujuh prasasti kerajaan Tarumanegara serta agama yang dianut pada masa kerajaan Tarumanegara dan menjadi portal acuan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
 ialah pokok pembahasan yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini Sejarah Kerajaan Tarumanegara (Kerajaan Tertua Di Indonesia)

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara didirikan sekitar kurun ke 5 di Sungai Citarum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan ini merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Mengenai Kerajaan Tarumanegara sanggup diketahui dari sumber sejarah prasasti dan informasi dari Tiongkok.
Baca juga Sejarah Kerajaan Kutai

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Ada 7 buah prasasti yang menunjukan Kerajaan Tarumanegara, adapun #7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang dimaksud yakni sebagai berikut :
1. Prasasti Ciaruteun
2. Prasasti Muara Cianten
3. Prasasti Kebun Kopi
4. Prasasti Jambu
5. Prasasti Cidanghiang atau Lebak
6. Prasasti Tugu
7. Prasasti Pasir Awi

Agama Yang Dianut Pada Masa Kerajaan Tarumanegara

Sumber informasi lain wacana Kerajaan Tarumanegara diperoleh dari catatan seorang musafir Tiongkok yang berjulukan Fa-Hien. Fa-Hien dalam perjalanannya ke India singgah di Ye-Po-Ti (Pulau Jawa) alasannya ialah bahtera yang ditumpanginya dilanda topan. Fa-Hien menyampaikan bahwa di To-lo-mo (Tarumanegara) pada 414 M ada 3 agama yakni :

1. Agama Hindu
Agama hindu merupakan agama yang paling banyak penganutnya. Untuk mengetahui sejarah perkembangan agama hindu sanggup mengunjungi halaman berikut
Baca ini Sejarah Perkembangan Agama Hindu
2. Agama Buddha
Untuk mengetahui sejarah perkembangan agama buddha sanggup mengunjungi halaman berikut
Baca ini Sejarah Perkembangan Agama Buddha
3. Agama Kotor
Para sejarawan mengira bahwa yang disebut agama kotor ialah animisme dan dinamisme.

Raja terbesar Kerajaan Tarumanegara ialah Purnawarman. Dia memerintah dengan sangat bijaksana dan adil. Pada masanya rakyat hidup dengan makmur. Hal tersebut dibuktikan dengan Prasasti Tugu yang menceritakan bahwa Purnawarman telah memerintahkan penggalian Sungai Gomati untuk mencegah terjadinya banjir dan proteksi sedekah berupa 1.000 ekor sapi kepada Brahmana. Tindakan itu menyampaikan perilaku sosial Raja Purnawarman.

Dari beberapa prasasti yang telah diteliti oleh sejarawan yang disimpulkan bahwa Raja Purnawarman menganut agama Hindu aliran Wisnu. Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Tarumanegara, kerajaan tertua di Indonesia.

Rabu, 27 April 2016

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) Di Indonesia

Kerajaan mataram kuno (hindu) di Indonesia adalah pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini. Adapun sub pembahasan ihwal sejarah kerajaan mataram kuno (hindu) yang dibahas didalam materi pelajaran Sejarah yakni sebagai berikut :

1. Sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Hindu).
2. Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno (Hindu).
3. Susunan Raja-raja Pada Dinasti Syailendra.

Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan dan wawasan anda didalam mengetahui sejarah kerajaan mataram kuno (hindu)nama-nama raja pada kerajaan mataram kuno (hindu), serta susunan-susunan raja pada masa Dinasti Syailendra dan menjadi portal rujukan tugas, skripsi maupun makalah bagi para pelajar di seluruh wilayah tanah air Indonesia maupun mancanegara.
 pokok pembahasan utama yang akan dijelaskan secara lengkap pada artikel dibawah ini Sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) Di Indonesia

Sejarah Kerajaan Mataram Hindu

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah, dengan sentra lembah Kali Progo, yang mencakup :

1. Magelang
2. Muntilan
3. Sleman
4. Yogyakarta

Ibukotanya Medang kamulan, dengan raja yang pertama kali yang memerintah yaitu Raja Sanjaya, penganut Hindu.
Baca ini Sejarah Perkembangan Agama Hindu
Pusat kerajaan terletak di tempat yang disebut Medang I Bhumi Mataram (Diperkirakan sekitar Prambanan, Klaten, Jawa Tengah). Sumber informasi adanya Kerajaan Mataram Kuno yaitu Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M, dikeluarkan oleh Raja Sanjaya.

Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno (Hindu)

Berdasarkan Prasasti Canggal sanggup diketahui bahwa Raja pertama dari Dinasti Sanjaya, yaitu Sanjaya. Menurut prasasti ini, Jawadwipa (Pulau Jawa) yang kaya akan Padi dan emas mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, negara menjadi akan kacau.

Kemudian tampillah Sanjaya, anak dari saudari wanita Raja Sanna yang berjulukan Sannaha. Sanjaya menaklukkan tempat sekitar Mataram Kuno, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, bahkan memerangi juga Sriwijaya dan kerajaan Melayu.

Setelah Sanjaya wafat, digantikan oleh putranya yang berjulukan Panangkaran. Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran, agama Buddha mulai masuk ke Jawa Tengah sehingga keturunan Syailendra sudah ada yang memeluk agama Buddha.
Baca ini Sejarah Perkembangan Agama Buddha
Beberapa keturunan Dinasti Sanjaya sudah ada yang memeluk agama Buddha. Dinasti Syailendra diperkirakan berhasil menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya, sehingga Dinasti Sanjaya mengalihkan pemerintahannya ke Jawa Tengah potongan utara. Perkiraan pergeseran pemerintahan Dinasti Sanjaya itu diperkuat dengan adanya peninggalan berupa kompleks Candi Hindu di Gedong Songo (Ungaran) dan di Dieng.

Selain Prasasti Canggal, ada juga Prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta. Dalam prasasti Kalasan disebutkan Raja Panangkaran dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Prasasti Canggal ditulis memakai karakter Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Didaerah Sojomerto, Pekalongan ditemukan juga prasasti yang membuka tabir asal seruan Wangsa (Dinasti) Sanjaya. Bentuk karakter yang tertulis pada Prasasti Sojomerto sangat tua, yang kemungkinan berasal dari kurun ke-5 M. Prasasti Sojomerto berisi ihwal nama seorang pejabat tinggi yang berjulukan Dapunta Syailendra.

Berdasarkan keterangan Prasasti Sojomerto, sanggup disimpulkan bahwa Dinasti Syailendra berasal dari Jawa Tengah. Prasasti ini juga menyebutkan ihwal Raja Panangkaran yang mendirikan bangunan suci untuk para pendeta dan menghadiahkan Desa Kalaca kepada Sanggha (penganut agama Buddha).
Baca juga Sejarah Masuknya Agama Hindu-Buddha Ke Indonesia

Susunan Raja-raja Pada Dinasti Syailendra

Berdasarkan penelitian para mahir sejarah, sanggup dibentuk susunan raja-raja dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah yakni :

1. Raja Bhanu (752-775 M).
2. Raja Wisnu (775-782 M).
3. Raja Indra (782-812 M).
4. Raja Samaratungga (812-833 M).
5. Raja Balaputradewa (833-856 M).

Dinasti Syailendra mengalami penyatuan dengan Dinasti Sanjaya berkat adanya perkawinan politik antara Pramudyawardhani (Putri Samaratungga) dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Namun sehabis Samaratungga wafat, terjadi kudeta antara Pramudyawardhani (putri Samaratungga)-Rakai Pikatan dengan Balaputradewa. Balaputradewa kesudahannya terdesak kemudian pergi ke Sriwijaya dan menjadi Raja disana. Hal ini terjadi karen ibunya yaitu salah seorang keturunan Raja Sriwijaya.

Perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramudyawardhani ternyata sanggup menyatukan pemerintahan. Selain itu, pemeluk agama Hindu dengan pemeluk agama Buddha sanggup hidup rukun berdampingan. Pramudyawardhani meneruskan pembangunan Candi Plaosan di Prambanan.

Di Candi Plaosan banyak ditemukan tulisan-tulisan pendek ihwal nama Sri Kahulunan dan Rakai Pikatan. Pramudyawardhani juga meresmikan tunjangan tanah dan sawah untuk menjamin pemeliharaan Kamulan atau bangunan suci Bhumisambhara yang kemudian disebut dengan Candi Borobudur.

Di pihak lain, berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan, kebudayaan Hindu sanggup dihidupkan kembali. Rakai Pikatan segera memulai pembangunan candi-candi Hindu yang megah dan indah, salah satuya yaitu Candi Prambanan di Desa Prambanan. Ketika Rakai Pikatan wafat, pembangunan kompleks candi belum selesai. Kemudian diteruskan oleh para penggantinya dan gres selesai pada masa pemerintahan Raja Daksa sekitar tahun 915.

Untuk lebih mengetahui raja-raja yang memerintah di Mataram, Prasasti Kedu atau dikenal juga dengan nama Prasasti Mantyasih (907 M) mencamtumkan silsilah raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu ini dibentuk pada masa Raja Rakai Dyah Balitung.

Puncak kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Balitung. Yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan Candi Prambanan dan Roro Jonggrang. Masa pemerintahan raja-raja Mataram sehabis Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya. Tetapi sanggup diketahui nama-nama raja yang memerintah, yakni sebagai berikut :

1. Daksa (913-919 M).
2. Wawa (919-924 M).
3. Tulodhong (924-929 M).
4. Empu Sindok (929-948 M).

Pada tahun 929 M ia memindahkan ibukota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur). Selanjutnya Empu Sindok ini mendirikan dinasti gres yang berjulukan Isanawangsa dan mengakibatkan Wulunggaluh sebagai sentra kerajaan. Empu Sindok ini memerintah semenjak tahun 929 M hingga dengan 948 M.

Empu Sindok kemudian digantikan oleh Sri IsanaTunggawijaya yang memerintah sebagai ratu. Ia menikah dengan Raja Sri Lokapala dan dikaruniai seorang putra yang berjulukan Sri Makutawang Swardhana.

Pada final kurun ke-10 M, Mataram selanjutnya diperintah oleh Sri Dharmawangsa yang memerintah hingga tahun 1016 M. Ia yaitu seorang keturunan Empu Sindok. Berdasarkan informasi dari tiongkok, disebutkan bahwa Sri Dharmawangsa pada tahun 990 M mengadakan serangan ke Sriwijaya sebagai upaya mematahkan monopoli perdagangan sriwijaya.

Serangan tersebut gagal, malah Sriwijaya berhasil menghasut Raja Wurawari (sekitar banyumas) untuk menyerang istana Sri Dharmawangsa pada tahun 1016. Dari sini mulai terjadi kehancuran Dharmawangsa, sehabis Wurawari melaksanakan penyerangan ke istana.

Peristiwa ini menewaskan seluruh keluarga raja termasuk Sri Dharmawangsa sendiri, dan hanya Airlangga yang berhasil menyelamatkan diri. Airlangga berhasil menyelamatkan diri bersama Purnarotama dengan bersembunyi di Wonogiri (hutan Gunung). Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa.

Pada tahun 1019, Airlangga (Menantu Sri Dharmawangsa) dinobatkan menjadi seorang Raja menggantikan Sri Dharmawangsa oleh para pendeta Budha. Ia segera mengadakan pemulihan hubungan baik dengan Sriwijaya. Airlangga menantu Sriwijaya saat diserang Raja Colamandala dari india selatan.

Selanjutnya tahun 1037, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Sri Dharmawangsa. Airlangga juga memindahkan ibu kota kerajaannya dari daha ke Kahuripan.

Pada tahun 1042, Airlangga menyerahkan kekuasaaannya pada putrinya yang berjulukan Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya itu menolak dan menentukan untuk menjadi seorang petapa dengan nama petapa Ratu Giriputri. Selanjutnya Airlangga memerintahkan Empu Bharada untuk membagi dua kerajaan, Yaitu sebagai berikut :

1. Kerajaan Jaggala
Kerajaan Jaggala disebelah timur diberikan kepada putra sulungnya Garasakan (Jayengrana) dengan ibu kota di kahuripan (jiwana) mencakup tempat sekitar Surabaya hingga pasuruan.
2. Kerajaan Panjalu (Kendiri)
Kerajaan Panjalu di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang berjulukan Samarawijaya (Jayawarsa), dengan ibu kota di kediri (Daha), mencakup tempat sekitar kediri dan madiun.

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Mataram Kuno (Hindu) di Indonesia.